pemberhentian emosiku, rasaku, bahagiaku, marahku, sepiku, naik turunku... luberkanlah disini agar setiap kali aku kembali berjalan, ada jejaknya yang terekam oleh waktu dan tempat...
6.1.09
Kamu Ingin Apa dari Aku?
Kamu ingin apa dari aku?
Kejujuran yang kamu minta?
Lalu apa yg kamu lakukan sekarang ini,
kejujurankah menurutmu?
Membuat aku mencari dan menunggu,
berharap dalam ketidakpastian.
Apa kamu tahu bagaimana rasanya jadi orang yang terus menunggu?
Bisakah kamu posisikan dirimu di tempatku?
Tidak ada kejujuran dalam hubungan yang masih embrio ini.
Tapi ada begitu banyak kata-kata yang kamu buang sia-sia ke telingaku,
ketika kamu katakan kata-kata yang seharusnya belum boleh kamu ucapkan.
Dan ketika aku merasa aku sedang ada di kerajaan awan,
kamu tarik aku lalu membanting semua ke tanah.
Sakit dan memar di seluruh bagian hati.
Ada bekas-bekas merah biru di sana.
Dan tidak salah kan ketika aku dengan kesadaran dan logika yang tersisa,
memutuskan sudah cukup.
It’s enough!
Aku tidak akan bisa menahan kerasnya permainan yang sedang kau mainkan.
O ya, aku cukup kuat aku pikir.
Untuk melepaskan yang sesungguhnya belum betul-betul jadi milikku.
Dan semua memori yang masih tersisa tentang kamu, akhirnya fade away.
Tapi kenapa sekarang kamu ingin mengutak-atik semua sampah itu?
Dan menguarkan kembali aroma sakit hati dan kekesalan masa lalu.
Katakan apa yang kamu inginkan dariku.
Kejujurankah?
Apa kamu ingin aku berteriak ke semua orang disini?
Ya memang aku sudah masuk dalam perangkapmu.
Perasaan yang berbulan lalu hanya kosong saja,
Berubah jadi terisi, penuh dengan energi kasih dan hasrat.
Tapi masih perlukah itu bagimu, ketika kau datang dan pergi sesuka hatimu.
Menanamkan benih suka itu di tanah hasratku, dan mencabut akarnya selagi
belum tumbuh sempurna.
Katakan sampai kapan kamu suka melihat ketersiksaan dan amarah.
Dan kenapa hati adalah sebentuk benda tak stabil yang begitu gampang diubah
dan diarahkan kemana condongnya.
Kenapa selalu saja kau mainkan permainan yang sama.
Ketika kau tahu bahwa aku bahagia,
kamu pergi lagi.
Tertinggal kekosongan dan air tak surut menetes.
Tahu bahwa satu saat ini semua harus diakhiri.
Tapi ketika kamu datang lagi, aku tahu bahwa kamu penyebab dan sekaligus
obat bagi sakit ini.
Kamu mau apa dariku.
Sampai kamu dengar bibirku bicarakah?
Bahwa rasa yang disini benar ada.
Bahwa semua perasaan di sini bermuara di satu titik,
sungai yang airnya meluap.
Berisi kata cinta yang tidak berujung
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment