21.4.09

Dasar pengecut

Kenalan dengan seseorang lewat sebuah situs jejaring di internet. Awalnya biasa saja. Tidak terlalu berminat untuk melanjutkan perkenalan itu ke hubungan yang lebih akrab lagi. Ditodong memberikan alamat ym. Berlanjut ke ym. Mulai obrolan lewat ym. Pertama kali cuma sapaan ringan di sore hari menjelang pulang kantor. Cuma bilang hai dan bertanya belum pulang? Itupun cuma beberapa kali dalam seminggu. Tapi setiap kali disapa lewat ym, aku selalu dengan cepat menjawabnya. Lama-lama yang diomongin jadi banyak. Bermula dari status ymku yang emang suka aneh. Dia mulai brani menanyakan apa maksud dr status ymku. Dari situ perbincangan makin sering dan intens. Mulai banyak yang jadi bahan obrolan. Beberapa kali dalam seminggu pun meningkat frekuensinya. Bukan lagi beberapa kali dalam seminggu, tapi berkali-kali dalam sehari. Aku mulai merasa orang ini asik diajak bicara. Pembicaraan kami selalu nyambung dan ko ya jalan pikirannya denganku hampir sama? Perlahan apa yang biasa saja menimbulkan perasaan tidak biasa. Kalo intensitas obrolan lewat ym berkurang aku mulai mengambil inisiatif mengajak ngobrol duluan. Perasaan mulai penasaran. Ko asik ya, ko nyambung ya, ko gimana ya.... Dan setelah berbulan-bulan waktu dihabiskan dengan media ym, dia kembali menodong. Minta no. hp. Karena merasa aman dan nyaman aku berikan no. hpku. Benar saja, tak berapa lama hpku berdering. Dari dia.... Dan story goes on... Sehari kalau tidak mendengar suaranya, terima smsnya, aku mulai gelisah dan bingung. Dia kenapa? Dia dimana? Apa dia mulai bosan... Dan rasa biasa itu perlahan mulai tumbuh menjadi rasa tidak biasa. Aku rasa dia begitu juga. Aku pernah pengen ngusilin dia dengan tidak mengangkat telponnya dan tidak menjawab smsnya. Dan saat akhirnya aku mengangkat telponnya, suaranya, pertanyaannya menunjukkan rasa khawatir dan kesalnya karena keisenganku. Hari yang sepi jadi ramai dan ceria karena dia. Aku rasa aku sudah jatuh suka.... Dia menelpon satu malam. Menodongku lagi. Kali ini ingin bertemu langsung. Akhirnya setelah sekian lama, dia tidak tahan juga hanya lewat telpon dan ym. Kami sepakat akan bertemu di suatu tempat, pada satu waktu. Karena aku belum pernah melihat wajahnya, kami sepakat akan memakai baju yang bisa membuat kami langsung bisa saling mengenali. Dengan perasaan campur aduk bahagia mix dengan deg2an dan rasa tak sabar, aku menanti hari itu. Dan hari H tiba. Sepulang kantor aku langsung menuju tempat kami berjanji untuk bertemu. penuh pengharapan aku masuk dan menunggunya disana. ..................................................................................... Lebih dari satu jam aku menunggu, bergelas-gelas minuman aku habiskan. tapi yang kutunggu tak juga menunjukkan dirinya. Hari itu,tak satupun orang yang datang ke tempat itu dengan deskripsi baju seperti yang dia bilang di telpon. Aku terus menunggu hingga sadar bahwa yang kutunggu terlalu pengecut untuk menemuiku. Aku tak tahu apakah sebenarnya dia membohongiku karena: a. dia sudah ada disana dan memakai baju lain, untuk mengetes seperti apakah orang yang dia temui dan jika orang itu tidak sesuai dengan yang diharapkan, dia memutuskan mundur, atau b. dia tidak datang sama sekali karena malu, atau c. dia mengerjai aku, d. aku tidak tahu,.... begitu banyak pertanyaan berputar du kepalaku bercampur rasa malu dan marah ditambah kecewa. Yang jelas sejak itu, telpon dan smsku tak pernah mendapat balasan, ymku diignore olehnya. Dasar pengecut, apa sebenarnya tujuannya aku juga tidak tahu. Untuk apa dia menghabiskan waktu dan uang sebanyak dengan menelpon dan meym aku tetap tak menemukan alasan. Akhirnya dengan perasaan kecewa aku memutuskan mencoret dia sama sekali dari daftar orang yang pernah masuk dalam hatiku. Meski sedih juga karena aku emrasa kehilangan satu dari sedikit orang yang bisa mengerti dan memahami jalan pikiranku.

No comments:

Post a Comment